Kedutaan Besar Indonesia di Myanmar Didemo Massa Antikudeta Militer



HARIANMASSA.COM – Demonstran antikudeta militer Myanmar menggeruduk gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia (RI), di Yangon, Selasa 23 Februari 2021.

Kedatangan pendemo ke Kedubes RI di Myanmar itu, dipicu oleh laporan Reuters yang mengatakan, bahwa Indonesia mendorong ASEAN untuk menyetujui rencana aksi untuk merespons janji junta militer mengadakan pemilu baru.

Dalam pernyataan sikapnya, para pendemo melakukan protes dengan rencana pengiriman pengawas dari ASEAN untuk memantau pemilu baru yang dijanjikan junta militer.

Lei Wah (29), salah seorang pendemo mengatakan, dukungan yang diberikan Indonesia untuk merespons janji junta militer sangat mengecewakan. Demonstran menolak pemilu junta militer dan menuntut pemerintah terpilih, pada Pemilu 8 November 2020 yang dipimpin Aung San Suu Kyi dipulihkan.

“Saya kesal dengan rencana itu. Kami tidak perlu mengulang pemilu. Jika kami mengadakan pemilu, itu berarti kami setuju dengan junta. Pemilu sudah diadakan pada bulan November, dan kami menerimanya,” kata Lei Wah, Selasa (23/2/2021).

Pendemo lainnya, buruh pabrik tas menambahkan, dia dan generasi yang lebih tua sangat menderita di bawah pemerintahan militer sebelumnya dan tidak menginginkan adanya pemilu baru yang digelar oleh pihak junta militer.

“Saya dan generasi yang lebih tua dari saya sangat menderita di bawah pemerintahan militer sebelumnya, pendidikan sangat buruk, dan kami selalu takut pada polisi. Saya tidak tidak ingin peristiwa itu terjadi lagi,” sambungnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia, Retno Marsudi mengatakan, transisi Myanmar menuju demokrasi setelah berlangsung kudeta militer bulan ini, harus mengikuti keinginan rakyat banyak Myanmar.

Pernyataan Retno muncul setelah kemarahan dari pengunjuk rasa antikudeta dan munculnya laporan Reuters, bahwa Indonesia mendorong rencana ASEAN untuk mengirim pengawas untuk memastikan junta militer mengadakan pemilu yang adil, seperti yang telah dijanjikan.

Baca Juga:  Setelah Kudeta, Militer Myanmar Janji Gelar Pemilu yang Demokratis
Baca Juga:  Dituduh Miliki Ilmu Hitam, Dua Orang Dipenggal dan Mayatnya Dibakar di India

“Transisi demokrasi inklusif harus diupayakan sesuai dengan keinginan rakyat Myanmar. Jalan apa pun ke depan adalah cara untuk mencapai tujuan ini,” kata Retno, dalam pesan yang dikirim ke Reuters hari ini, Selasa (23/2/2021).

“Indonesia sangat prihatin dengan situasi di Myanmar dan mendukung rakyat Myanmar. Kesejahteraan dan keamanan rakyat Myanmar adalah prioritas nomor satu,” tambah Retno.

Dirinya pun meminta semua pihak untuk menahan diri untuk menghindari pertumpahan darah.

Lebih jauh, Kementerian Luar Negeri Indonesia pun menolak berkomentar, apakah Indonesia ingin hasil pemilu 8 November dihormati. Tetapi seorang juru bicara kementerian itu mencatat bahwa Presiden Indonesia Joko Widodo telah memberi selamat kepada Aung San Suu Kyi atas kemenangannya pada saat itu.

Kementerian itu juga menolak mengomentari laporan Reuters tentang rencananya, yang menyerukan ASEAN untuk menengahi antara junta dan pengunjuk rasa Myanmar.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Baca Juga:  Belanda Tawarkan Kompensasi 5.000 Euro kepada 11 Anak Pejuang Indonesia

TERPOPULER

BERITA TERKINI