Pemberontakan PKI dan Pengaruhnya Terhadap Jamaah Haji 1926-1927



HARIANMASSA.COM – Ada yang menarik dalam penelitian sarjana asal Jepang, Akira Nagazumi yang berisi tentang pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan pengaruhnya terhadap jamaah haji tahun 1926-1927.

Tulisan yang berjudul asli The Abortive Uprisings of the Indonesian Communist Party and its Infuence on the Pilgrims to Mecca: 1926-1927, ini pertama kali diterbitkan oleh RIMA (Review of Indonesian and Malayan Affairs) dalam volume 14, No 2, tahun 1980. Tulisan ini cukup kaya akan data, dan fokus pembahasannya masih tergolong langka.

Penelitian ringkas Akira itu, kini telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dan diterbitkan Penerbit Buku Obor di dalam kumpulan tulisan sarjana Jepang, dengan judul Indonesia Dalam Kajian Sarjana Jepang, 1986.

Dimulai dari peristiwa pemberontakan yang gagal. Peristiwa ini, seperti diungkapkan oleh Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo, harus ditempatkan pada konteks yang kompleks. Di mana hubungan ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan yang terjadi saat itu, saling terikat satu sama lain. Sehingga, diperlukan kajian yang cukup luas dan dalam terhadapnya.

“Kasus 1926 itu sifatnya modern. Sedangkan pemberontakan pada tahun 1888, sebagaimana yang telah saya tulis sebagai disertasi masih bersifat tradisional, yang dipimpin oleh tokoh kharismatis yang bertujuan religius atau mitologis,” tulis Sartono, dalam pengantar Arit dan Bulan Sabit, Pemberontakan Komunis 1926 di Banten, halaman ix.

Tetapi berbeda dengan Sartono, Robert Van Niel dalam bukunya yang terkenal Munculnya Elit Modern Indonesia dan telah diterbitkan oleh Pustaka Jaya, pada 1984, melihat pemberontakan PKI 1926-1927 itu sifatnya sangat lemah.

Pemberontakan yang rencananya dilakukan secara serempak di seluruh wilayah Hindia Belanda ini, terlepas-lepas, tidak terorganisasi, dan hampir dapat dikatakan tidak penting. Bahkan, digambarkan sebagai gerakan terorisme.

Pada 12 November 1926, pemberontakan pecah di Jakarta, Jati Negara, Tangerang, Priangan, Solo, Kediri, dan Banten.

“Di Batavia, kejadian amat menarik ialah pengambilalihan kantor telepon oleh sekelompok orang bersenjata. Untuk Batavia, selebihnya pemberontakan ini terdiri dari tidak lebih dari gerombolan perampok,” tulis Van Niel.

Baca Juga:  Cerpen: Nasib Seorang Pendengar Setia

Sementara di Banten, sejumlah pegawai Belanda dibunuh oleh pelaku pemberontakan. Van Niel menyebut aksi itu sebagai gerakan teroris, karena melancarkan taktik merampok dan perampasan terhadap harta benda korbannya.

Di luar Jawa, pemberontakan komunis terjadi di Silungkang, pantai barat Sumatera, pada Januari 1927. Tidak seperti di Jawa, pemberontakan PKI di Sumatera lebih keras. Tetapi bernasib sama, pemberontakan ini gagal dan ditumpas habis oleh Belanda. Salah satu tokoh komunis dalam pemberontakan di Sumatera yang paling sohor adalah Moh Jatim.

Baca Juga:  Pramono Edhie Wibowo dan Garis Keturunan Terakhir

Dampak dari pemberontakan di Jawa dan Sumatera itu sangat fatal. PKI dibubarkan. Para pemimpinnya ditangkap dan dibuang. Sekira 1.300 orang yang bersimpati kepada gerakan itu dibuang ke Tanah Merah. Beberapa puluh orang yang tidak mau berdamai dengan Belanda, seperti Aliarcham, diasingkan ke tempat yang lebih jauh, yakni Tanah Tinggi.

Berita mengejutkan setelah pemberontakan itu, datang dari Arab Saudi. Surat kabar di Kairo, Al Ahram, pada 28 November 1926 menulis adanya aktivitas PKI di Arab Saudi. Dengan mengutip dari harian Prancis Les Debats, berdasar gerakan dari konsulat Soviet, di Jeddah. Pemberitaan ini, langsung mencemaskan pemerintah Arab Saudi.

“Kegiatan anggota konsulat USSR ini bertujuan menyebarkan gagasan komunis di kalangan para jamaah haji. Banyak kurir pergi menemui para jemaah haji pada perjalanan dari Jeddah ke Makkah, membagi-bagikan dokumen propaganda di antara mereka yang bisa baca tulis,” tulis laporan, pada surat kabar Al Ahram, pada 28 November 1926 tersebut.

Jauh sebelum meletusnya pemberontakan PKI, tahun Hijiriah 1345 atau periode 12 Juli 1926 hingga 1 Juli 1927, tercatat bahwa jumlah jamaah haji dari Hindia Belanda, sebanyak 52.412 orang atau sekira 42,6% dari total jamaah haji tahun itu. Jumlah ini, bisa melonjak, karena tidak termasuk jamaah yang masuk secara ilegal tanpa dokumen sama sekali.

Baca Juga:  Aliarcham Obor yang Tak Pernah Padam

Adanya pemberitaan mengenai aktivitas komunis terhadap para jamaah haji menimbulkan ketakutan bagi pemerintah Arab Saudi. Mereka takut kehilangan pemasukan terbesar mereka dari para jamaah haji Hindia Belanda.

Tetapi Belanda juga khawatir, mereka takut jika propaganda komunis itu berhasil di Arab Saudi, hubungan yang sudah terjalin antara Belanda dengan Arab Saudi, bisa rusak. Hal ini membuat konsulat Belanda di Arab Saudi melakukan penyelidikan secara independen terkait aktivitas subversif tersebut. Hasilnya, ternyata seperti yang mereka dipikirkan.

Laporan yang panjang mengenai adanya aktivitas PKI di Arab Saudi, dilaporkan oleh Konsulat Belanda, van der Meulen.

“Seorang bernama Mahdar, tokoh komunis Indonesia dari Tangkuan, Garut, Jawa Barat, yang terlibat pemberontakan di Ciamis, Jawa Barat, tengah malam tanggal 12 November 1926, diselundupkan ke Jeddah, tanpa paspor dan tiket.. kabarnya dia memimpin dua buah organisasi untuk kegiatan anti Belanda,” tulis laporan van der Meulen, pada 1927.

Penyelidikan rahasia van der Meulen ini sangat penting dan masih harus diteliti lagi. Terutama tentang organisasi yang disebutkan, yakni Sjeich Bond Indonesia (SBI) atau Persatuan Syekh Indonesia dan Perserikatan Islam Indonesia (PII).

Baca Juga:  Pergulatan Iman Haji Komunis dari Surakarta (1)

Namun, Akira Nagazumi mengaku, dirinya benar-benar yakin bahwa kedua organisasi itu memang ada dan memiliki hubungan dengan PKI. Tetapi, tidak dijalankan secara sistematis pada 1926-1927, karena sulitnya membangun komunikasi dengan tokoh-tokoh PKI di luar negeri, yakni Timur Tengah, seperti Semaun, Tan Malaka dan Alimin.

“Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa kegiatan SBI/PII di Makkah sama sekali tidak dijalankan secara sistematis. Kegiatan mereka hanya merupakan suatu usaha terakhir untuk menghindari pengejaran yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda,” tulis Akira, dalam penelitiannya, seperti dikutip dari buku Yayasan Obor Indonesia, halaman 219.

Dalam perjalanannya, PKI dalam SBI/PII melancarkan serangan langsung terhadap Pemerintah Arab Saudi yang tentu saja membuat Raja Ibnu Saud marah dan langsung melakukan penangkapan kepada para pemimpin SBI/PII.

Baca Juga:  Catatan dari Penjara: Cinta dan Pengorbanan Mantan Ketua Pemuda Rakyat

Mereka mengorganisir saqa atau para pengangkut air di sekeliling kota suci yang sangat menderita, karena beban pajak bulanan yang berat, untuk melakukan pemogokan. Mereka juga membuat propaganda tentang Pan-Islamisme. Sejauh mana aksi-aksi tersebut berlangsung, tidak ada keterangan. Hanya diketahui berdasarkan catatan-catatan ringkas.

Melalui tangan besinya, akhirnya Raja Ibnu Saud melakukan serangkaian penangkapan terhadap para aktivis PKI yang ada dalam SBI/PII. Tetapi Mahdar berhasil meloloskan diri. Delapan orang pimpinan PII lalu ditangkap.

Terdiri dari Soetan Moentjak dari Padang Panjang, Pakih Ripat dari Solok, Marhoem dari Padang, Abdoellah Kamil dari Panaman, Soemadisastra dari Jawa Barat yang juga sebagai Sekretaris PII, Ganda dari Ujung Berung, Bandung yang merupakan bendahara SBI, Hadji Tangsi gelar Bagindo alias Abdoerrahman, dan Bersjro.

Kepada para tahanan ini, kemudian dibuang ke Boven Digul, menyusul ribuan aktivis PKI lainnya yang telah dibuang.

Penangkapan dan pembuangan para aktivis PKI ini mendapat reaksi keras dari pers di Arab Saudi. Raja Ibnu Saud pun gerah. Pemerintah Arab Saudi dituding berkomplot dengan kolonialis Belanda dan ikut menekan gerakan pembebasan kaum Muslim, di Hindia Belanda. Reaksi keras juga datang dari mahasiswa Indonesia di Universitas Al Azhar, Kairo.

Tidak hanya terhadap Pemerintah Arab Saudi, kepada Pemerintah Kolonial Belanda juga mahasiswa bereaksi keras. Hubungan antara wakil konsul Belanda dengan orang Indonesia, di Makkah, akhirnya putus untuk selamanya.

Hasan Kurniawan

Jurnalis

Sumber Tulisan:
Akira Nagazumi, Indonesia Dalam Kajian Sarjana Jepang, Yayasan Obor Indonesia, Januari 1986.
Michael C. Williams, Arit dan Bulan Sabit, Pemberontakan Komunis 1926 di Banten, Syarikat, 2003.
M.C. Simatupang, H.P Pardede, Sejarah Tanah Air dan Tata Negara, Mari Published Coy, 1950.
Robert Van Niel, Munculnya Elit Modern Indonesia, Pustaka Jaya, 1984.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Baca Juga:  Pemberontakan Petani di Tangerang 1924

TERPOPULER

BERITA TERKINI