Lamunan Sebatang Rokok



HARIAN MASSA – Orang bilang kata-kata tidak akan pernah mau beristirahat. Orang juga bilang, waktu terbaik untuk mengisap rokok ketika kita turun dari kereta selepas seharian bergelut di tempat kerja.

Jreeesssss…

Sambil mengisap sebatang rokok yang ujungnya terbakar, lelaki itu melihat kereta yang baru ia tumpangi merayap pergi menjauh. Itu kereta terakhir, orang-orang yang ketinggalan kereta itu pasti tak bisa pulang ke rumah. Melanjutkan hari dengan tidur di tempat kerja, atau naik taksi dengan merogoh kocek yang tidak sedikit.

Lelaki itu mengamati wajah-wajah muram kaum pekerja, yang pikiran dan tenaganya sudah habis. Mata si lelaki terus saja menjelajah ke sekeliling hingga menangkap perempuan bunting -berpeluh, yang duduk sembarangan saja seperti orang sedang menunggu jemputan.

Hari memang sudah sangat malam. Sesaat lagi ganti hari. Tak baik membiarkan perempuan dalam keadaan bunting berjalan sendirian pulang ke rumah. Tapi kenapa membiarkan perempuan bunting bekerja hingga larut malam? Aneh. Sebatang rokok kembali diisap si lelaki ketika melangkah menuju jalan raya.

Di jalan si lelaki melihat pedagang subuh mempersiapkan lapaknya. Ketika ia lewat, berbagai jenis sayuran sedang dipindah dari mobil bak terbuka ke atas terpal digelar sepanjang trotoar. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benaknya. Ada cukup banyak pilihan waktu bekerja, tetapi kenapa para pedagang memilih keluar pagi-pagi buta, lalu berharap barang dagangan mereka habis sebelum fajar?

“Barang kali mengais rezeki memang lebih baik dilakukan ketika kebanyakan orang masih tertidur, saingan tak sebanyak jika semua orang sedang melek,” si lelaki terkekeh menjawab pertanyaanya sendiri.

Sepatu berat yang biasa menemaninya melewati jalan-jalan mengkhawatirkan dalam hidup yang kasar dan sengsara, kini semakin sulit diajak melangkah. Rasa-rasanya sepatu itu sudah mulai kekecilan, atau tumit si lelaki yang bengkak hingga sepatunya terasa tak nyaman.

Baca Juga:  Perjuangan Kemerdekaan dari Boven Digoel dan Australia
Baca Juga:  Cerpen: Fragmen Perjalanan

Ia pun berhenti di depan tumpukan bawang yang tersusun berdasarkan jenisnya; merah dan putih. Sambil merogoh isi sepatunya, mencari-cari sumber rasa nyeri, si lelaki kembali melamun. Melihat tumpukan bawang di depannya, pikiran si lelaki melayang ke persawahan di desa-desa, di mana dulu, semasa kecil, ia pernah menyaksikan petani menyambut panen raya sambil didengarnya suara gadis-gadis kampung menumbuk jagung menjadi tepung dan adonan kue jagung.

Si lelaki tersadar, sambil tercenung ia mengisap kembali rokoknya. Matanya menyisir lapak-lapak penjual ikan, yang di antaranya menyusun potongan tuna dan kepala kakap di atas bongkahan es. Pikiran si lelaki kembali melayang, kali ini ke kampung nelayan. Di sana ia melihat perahu bercadik membawa jala dipenuhi tangkapan-tangkapan yang besar.

“Mana ada negeri seindah negeriku?” pikirnya.

Si lelaki terus melangkah. Ia kembali mengisap rokoknya ketika melintasi papan raksasa berlampu neon, yang memamerkan wajah-wajah calon presiden. Di sana si lelaki melihat senyuman yang tanpa sadar membuatnya ikut tersenyum. Ia tersenyum bukan karena bersandiwara. Bukan karena lelaki itu tahu bahwa ada banyak senyuman yang lahir atas keterpaksaan. Tetapi karena ia yakin bahwa senyuman adalah sikap: sikap manusia terhadap nasib dan kehidupan.

Wajah dalam papan raksasa berlampu neon itu bukan wajah yang asing bagi si lelaki. Tentu saja. Enam tahun yang lalu, pemilik wajah tersebut berjanji kepada wanita bernama Sipon serta anak-anaknya, bahwa ia akan mencari suami Sipon yang hilang setelah membacakan puisi di depan kantor Kedubes Jerman.

Setiap Kamis sekelompok orang berkumpul di depan kantor pemilik wajah dalam papan raksasa berlampu neon tersebut, untuk sekadar mengingatkan janji yang telah ia ucapkan. Mereka berkumpul untuk sebuah peringatan.

Baca Juga:  Cerpen: Mata Kiri Togog

“Bukankah puisi cuma kata-kata? Lalu kenapa orang takut pada kata-kata?” Si lelaki bergumam, lalu mengisap dalam-dalam rokoknya.

Baca Juga:  Lawan Perbudakan Rasial, Lincoln dan King Dibunuh

Sebatang rokok yang terus diisap kini semakin pendek. Orang bilang bagian ternikmat dari sebatang rokok adalah ketika gulungan tembakau itu sudah terbakar setengahnya. Wajah-wajah dalam papan berlampu neon sudah ia tinggalkan.

Pikiran si lelaki melayang pada suatu sore, delapan tahun lalu. Ketika ia tengah menulis laporan di tempatnya bekerja, pemilik wajah dalam papan raksasa berlampu neon itu tiba-tiba muncul di kantornya.

Si pemilik wajah dalam papan raksasa berlampu neon bukan seorang jenderal seperti para pendahulunya. Dia hanya pria kurus yang gemar bekerja. Menggulung lengan baju, kemudian menyelesaikan persoalan yang terjadi di tengah masyarakat. Melihat kesederhanaannya, si lelaki seolah menemukan secercah harapan dalam upaya menemukan suami Sipon.

Sayangnya, hingga memasuki tahun ini, lebih dari dua dekade setelah suami Sipon menghilang, pemilik wajah dalam papan raksasa berlampu neon tersebut tidak pernah menepati janjinya.

Rokok di tangan si lelaki kini sudah sedemikian pendeknya hingga tidak bisa lagi bisa diisap. Lelaki itu sekarang mengerti, bahwa kata-kata bukan sekadar bunyi yang tidak memiliki arti.

Kata-kata bisa menyakiti, kata-kata bisa meleyapkan nyawa manusia, dan kata-kata bisa menumbangkan tirani yang ingkar terhadap kata-katanya sendiri.

“Istirahatlah kata-kata,” ucap lelaki tersebut seraya melangkah pulang. Rokok di tangannya sudah terlalu pendek untuk diisap.

Klara Akustia

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Baca Juga:  Sketsa Henk Ngantung di Jakarta

TERPOPULER

BERITA TERKINI