Derita Kanker Stadium 3, Bocah di Tangsel Butuh Bantuan 



HARIAN MASSA, TANGERANG – Hari itu, M Boni Alviano (7) tidak bisa tidur. Giginya sakit, dan kepalanya pusing. Tiba-tiba, darah segar keluar dari hidungnya, Boni mengalami sakit mimisan.

Dalam waktu 15 hari, penyakit anak bungsu pasangan Anita Palyani (37) dan Boy Nalriska (39) ini tidak kunjung sembuh. Sebaliknya, malah semakin parah. Mata, pipi, dan rahang mulut bagian atasnya jadi bengkak-bengkak.

Sejak saat itu, siswa Kelas 1 SDN di Rangkas Bitung, Leuwidamar, Kampung Babakan Girang, Desa Nayagati, Lebak, Banten, ini pun tidak pernah masuk sekolah lagi. Kondisinya, setiap hari semakin bertambah parah saja.

Anita Palyani (37), ibunda Boni mengatakan, putra bungsunya itu memang sekolah di kampung. Sedang dirinya, bersama suami Boy Nalriska (39), dan tiga anaknya yang lain tinggal mengontrak di wilayah Pondok Aren.

Saat ditemui di rumah kontrakannya, di Jalan H Som, RT03/01, Pondok Pucung, Pondok Aren, Boni tampak terbaring di kasur ruangan depan kontrakan pintu nomor tiga warna biru.

Kondisinya saat ini, sudah berubah jauh dari sebelum dia sakit gigi, pada Februari 2020. Tengkorak kepala bagian depan dan bagian depan wajahnya, tampak menggelembung seperti balon. Matanya keluar dan mulai buta.

Bocah yang dahulu dikenal sangat aktif dan tidak bisa diam ini, dalam beberapa bulan saja sudah menjadi lumpuh. Tubuhnya juga menjadi kurus kering, pasrah menanti nasib.

“Awalnya, dia mengeluh sakit gigi. Lalu pusing kepala, dan mimisan di hidung. Dari situ, baru mulai terjadi pembengkakan di mata, pipi, dan rahang mulut bagian atas,” kata Anita, ditemui di rumah kontrakannya, Jumat (31/5/2020).

Setelah mengurus BPJS Kesehatan, Boni pun langsung mendapatkan tindakan RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Dia dirawat sedari 17 Maret hingga 17 Mei 2020. Sejak dirawat itulah, pembengkakannya jadi parah.

Baca Juga:  Polisi Benarkan Wartawan Metro TV Tewas Dibunuh
Baca Juga:  Ini Pemicu Keributan Debt Collector di Tangerang

Untuk bernapas, Doni mendapatkan bantuan alat pernapasan dari selang yang dimasukan lewat leher. Makan pun demikian, dimasukan selang dari mulut. Namun karena sulit, akhirnya langsung dimasukan dari lambung.

Dokter memvonis, Doni menderita kanker ganas stadium 3 rabdomiosarkoma. Penyakit yang memiliki kadar kesembuhan 3 dari 10 setelah dioperasi ini, bukan perkara mudah yang bisa dijinakkan. Apalagi disembuhkan.

“Kata dokter tumor ganas, rabdomiosarkoma stadium 3. Sekarang kita lagi menjalani kemoterapi. Kita disuruh rawat jalan, karena saat ini masa pandemi Covid-19,” paparnya.

Selama dirawat di rumah, Doni tetap berada dalam pengawasan RSCM. Hanya saja, setiap kali pulang dari kemo, tubuhnya panas hingga 1 minggu, dan bisa menghabiskan berbotol-botol sanmol obat penurun panas.

Kondisi Doni pun mulai membaik. Mulutnya sudah mulai bisa bergerak dari yang sebelumnya kaku. Pembengkakan di bagian depan kepala dan wajahnya pun menciut. Doni pun siap menjalani operasi pertama.

“Rasanya kita kayak divonis hukuman mati sendiri. Gak percaya dan gak pernah terbayangkan. Apalagi anaknya aktif banget, dan jarang sakit. Makanya kaget tiba-tiba kayak begini. Bisa parah begini,” ungkapnya.

Ketiga kakak dan abang Doni pun tampak terlihat normal. Dia memiliki dua orang kakak perempuan, yakni Irnawati (19), dan Sifa Putri Ayanda (14), juga abang laki-laki M Fahrezi Andika (10) yang kondisinya tampak sehat.

Namun, kakek dari ibunya Doni memang ada riwayat kanker ringan di lutut bagian belakang. Berupa daging sebesar telur ayam, dan telah dioperasi dua kali, tetapi timbul lagi. Tapi, belum diketahui relevansi keduanya.

Jika sesuai jadwal, setelah 11 minggu kemo, dan kondisi Doni sudah membaik, dirinya harus menjalani operasi pertama. Pihak dokter pun mewanti-wanti biaya operasi itu.

Baca Juga:  Gejala Kecanduan Narkoba, Putra Wakil Wali Kota Tangerang Suka Memarjinalkan Diri
Baca Juga:  Penggunaan Anggaran Covid-19 Dapat Pengawasan Ketat Inspektorat

“Saya takutnya pas operasi nanti, apakah ini tercover BPJS atau tidak. Kalau dokter bilang, tanpa BPJS biayanya Rp100 juta keatas. Sedang untuk keperluan di RS selama 2 bulan saja, sudah habis Rp20 juta,” sambungnya.

Boy Nalriska (39), ayahanda Doni mengaku pasrah jika ternyata operasi putra bungsunya  tidak tercover BPJS. Apalagi, kerjanya hanya sopir angkot D-09 Bintaro Plaza-Sektor 9.

“Apapun pasti saya lakukan bagi anak saya agar bisa dioperasi. Tetapi, rumah sama kebun dan orang-orangnya dijual juga gak bakal cukup untuk biaya operasi. Di sini saja kita ngontrak sudah 4 tahun,” ungkapnya.

Dirinya pun hanya bisa pasrah kepada Allah SWT. Tetapi jika ada yang ingin memberi pinjaman untuk biaya operasi Doni, dirinya akan sangat bersyukur dan menerimanya.

“Harapan kita sama donatur. Semoga mereka bisa mengulurman tangannya untuk membantu anak kami. Mungkin kita tidak bisa membalas kebaikannya, hanya Allah SWT yang bisa membalasnya,” sambung Boy.

Bagi donatur yang terketuk membantu Doni dan keluarganya, bisa mengirim donasi ke nomor rekening BRI 8001192719507 atas nama Boy Nalriska atau bisa menghubungi Boy langsung di no telepon 083805418038.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Baca Juga:  Zona Merah, Warga Kutabumi Meninggal Covid-19

TERPOPULER

BERITA TERKINI